Suami saya pernah bilang, perempuan itu lebih pendek langkahnya dalam urusan mencari jodoh. Oleh karena itu, antara do'a dan usaha harus lebih besar do'a ketimbang usaha.
Dua minggu lalu, saya nonton film ini,
hasilnya...GARING abis...
Sabtu lalu saya mencoba untuk nonton film dengan genre yang sama, tapi buatan hollywood..

Padahal sama-sama dibuat berdasarkan buku, malahan ini hanya 'biografi' seekor anjing, kenapa kelihatan lebih menarik, lebih kena..
Salut buat film-film sukses yang diangkat dari buku, especially tribute for the director..
Labels: Pleasure
Sabtu lalu adalah kunjungan kedua kalinya saya ke dokter Anwar. Itu juga karena minggu lalu saya mual tiada tara, mengkhawatirkan semua orang. Rencananya, saya balik lagi kesana setelah usia kandungan 4 bulan, tapi karena tiga minggu ini suami saya keluar kota terus menerus dan dirasa harus membuatnya tenang, jadilah saya mulai mengantri hingga larut malam. Kunjungan kedua ini membawa hikmah, saya jadi berfikir bahwa ilmu dari buku saja tidak cukup. Dengan berbagi sesama ibu hamil, apalagi hamil yang kedua dan seterusnya, menambah wawasan saya juga. Yang tidak kalah menarik adalah latar belakang mereka memilih dokter Anwar. Kalau saya sih, dari Ibu, kami berempat 'hasil' dari pertolongan beliau. Diantara mereka ternyata sudah melalang buana ke berbagai dokter kandungan dan rumah sakit, sampai akhirnya terdamparlah kami semua disini.
Adalah seorang ibu mengalami nyeri di sekitar rahim hingga saluran genitalnya, setelah berkeluh kesah maka dokter pun memerkasanya. Sampailah pada kesimpulan, kalau ibu tersebut hanya radang. Tiba-tiba ibu itu mengeluarkan kartu berobat yang bertuliskan dokter yang lumayan terkenal lulusan luar negeri -dilihat dari gelarnya- Dokter lulusan luar negeri itu memvonisnya menderita mioma berdasarkan foto usg yang dia tunjukkan pula ke dokter Anwar. Hanya dengan melihat nama yang tertera didepan kartu berobat, dokter Anwar cuma senyum-senyum, sambil bilang "mana ada miom?". Yang membuat saya ternganga lagi, pasien ibu hamil satu lagi -karena kita bertiga- langsung berbisik ke saya "saya juga pernah ke dokter itu, dan divonis sama, obat pertama yang saya tebus 1,8 juta saya minum sampai habis, kontrol lagi kesana dikasih obat lagi dengan harga lebih murah 900 ribu. Belum saya minum, karena saya penasaran tentang 2nd opinion, datanglah saya kesini. Ternyata miom saya sama sekali nihil, disarankan ikut program hamil, sekarang saya hamil. Miom saya gak terbukti tuh"... Saya jadi berfikir, hati-hati memilih dokter yang benar-benar berbudi baik. Mungkin banyak diluar saya dokter pintar dan membuka praktek di rumah sakit internasional pula, tapi saya yakin masih jarang dokter yang menolong kita dengan ketulusan. Kembali ke pasien pertama tadi, akhirnya dia hanya diberi antibiotik biasa.
Tibalah giliran saya, karena masih amatiran dan keluhan saya hanya mual, saya kemudian langsung di usg. Kalau bulan lalu masih seperti kacang merah, sekarang sudah mulai terbentuk kepala, jantung, dan kaki. Subhanallah deh, saya menikmati sekali pemandangan yang menurut saya aneh bin ajaib. Dokter Anwar sepertinya tahu isi hati saya, dia memberikan sedikit waktu tambahan buat saya.
Labels: my baby
Seperti sudah lama sekali saya tidak menjamah blog ini, dikarenakan berbagai alasan tentu saja. Dimulai dari kesibukan saya sebagai istri dan separuh ibu rumah tangga -karena belum bisa masak- dan mutasi besar-besaran di setiap instansi tempat saya bekerja.
Tentang kepindahan kantor saya, sebenarnya bukan sesuatu yang mengganggu sekali. Karena menurut saya, dimanapun saya ditempatkan toh saya masih di sistem dan iklim yang sama. Untuk lingkungan pertemanan, ada sedikit perbedaan. Ini disebabkan di kantor saya yang baru, masing-masing terbagi pada setiap ruangan, jadi agak kesulitan beradaptasi. Untunglah ada apel pagi, jadi masih ada solusi bersosialisasi. Rute kantor berubah drastis, dari jalan yang harus memutar setiap pagi karena satu arah, hingga kesulitan mencari tempat makan representatif. Iklim kantor yang sedang mencekam, karena beberapa pejabat sedang dalam proses pemeriksaan. Ini kami jadikan cambuk, bahwa jaman jahiliyah sudah bukan waktunya lagi.
Saya lebih senang bercerita tentang keluarga kecil kami yang terdiri dari saya, suami dan si mungil yang usianya jalan 9 minggu ini. Semua terlihat antusias, karena ini adalah cucu pertama, sementara pada bahu saya diletakkan segudang tanggung jawab untuk harus tetap fit, makan makanan bergizi, minum susu dan vitamin. Suami saya selalu bilang kalau saya tidak boleh egois, hanya karena saya mual, nutrisi si mungil ini jadi terabaikan. Tentang suami saya, bukan tipe yang romantis, tapi teman yang tepat untuk berbagi, kami menjalani semua ini dengan sangat apa adanya. Rezeki dan limpahan rahmat ini mesti kami syukuri, semuanya terasa pas sekali.
Labels: life must go on
- Allah Maha Baik.
- Ibu, Bapak, Abbie, Inggrid serta Salli, untuk sesuatu yang mendadak.
- Gomank, partner yang solid. Pengantin merangkap wedding organizer, supir, tong sampah saya.
- Bulik Datik, our truly wedding organizer.
- Keluarga Besar Wasiroen, tim hore yang bikin hepi.
- Tetangga rumah yang jadi ikutan repot.
`foto menyusul.
Labels: Pleasure
Lagi suka banget buka facebook, jadi anggota sejak april tahun ini, tapi baru aktif sekarang...
Labels: Pleasure
Tadi malam saya menelpon Icha. Selain Brilky dia salah satu sahabat semasa SMA. Icha tidak jauh berubah, pribadinya masih seperti yang dulu, ceria, sedikit centil dan bawel..:P Yang banyak berubah adalah bagaimana cara dia memandang hidup dengan sudut pandangnya sebagai ibu rumah tangga. Saya salut sama sama dia. Ia seolah-olah bertransformasi menjadi pribadi yang lebih matang, penuh banyak tips, dan menikmati hidup. Begini dia bilang,
- Hidup adalah sebuah kompromi, jadi berdamailah dengannya.
- Suami yang sabar adalah sebuah kemutlakan.
- Hubungan suami-istri adalah kebutuhan, karena itu salah satu cara kita mengisi ulang kasih sayang, setelah seharian kita mencurahkannya kepada keluarga.
Labels: life must go on, touchy thigs
Saya paling boros soal urusan hak sepatu. Hanya hitungan tiga bulan, dipastikan sudah habis solnya. Begitulah nasib sepatu saya. Saya berniat membawanya reparasi ke toko tempat saya membeli, katanya ongkosnya cuma sepuluh ribu. Tapi tunggu dulu, toko itu di daerah Blok M, coba berhitung soal ongkos.. akhirnya saya pun mengurungkan niat. Saya mengubah niat akan membawanya ke reparasi sepatu di supermal dekat rumah. Curi dengar, ternyata Mas Gomank juga mereparasi hak sepatunya juga reparasi itu dekat kantornya. Ketika tanya harganya, ternyata 119 ribuan :( Itu sih separuh harga sepatu saya. Walhasil, saya mereparasinya ke langganan ibu saya, alias tukang sol sepatu. Hanya dengan lima ribu saja, saya mendapatkan hasil yang lumayan rapi. Hari ini, pertama kali saya mencoba hasil si 'mamang' tukang sol. Sepatu saya jadi nyaring bunyinya. Penasaran ada apa dibalik sol sepatu saya, saya teliti lebih lanjut ternyata sol karet sepatu dipaku dengan mantap ke hak kayu. Paku itulah yang membuat sepatu saya jadi nyaring bunyinya :D
Labels: Pleasure

Lubang trotoar seperti gambar disamping terlihat sepele, tapi benar-benar membahayakan. Baru-baru ini, saya mendapat kabar, salah satu teman kantor -berbeda dinas- mengalami keguguguran, akibat terjatuh ke lubang trotoar dalam perjalanannya menuju/pulang kantor. Miris sekali membayangkannya, kecerobohan segelintir orang tapi mengakibatkan nyawa melayang. Ironisnya, lubang itu ditimbulkan dari kecerobohan pekerjaan dari dinas tempat dia bekerja. Hal ini harus jadi perhatian kita semua, bukan karena sepenuhnya tanggung jawab pemerintah saja. Bukan tidak mungkin ibu, bapak, saudara kita atau bahkan kita sendiri yang akan jadi korban.